Harianpers.com//Ketua LMA Ferry Amo S.Ip membuka secara resmi pelatihan pembuatan replika mahkota cendrawasih, yang di laksanakan di rumah makan Grobogan kampung Yuwanain distrik Arso. pada tanggal 30 Januari 2026.

Acara pelatihan terbagi pada 2 (dua) sesi sesi pertama adalah ; Pembuatan mahkota khas Papua berbahan baku cocobristel, cocobristel adalah serat kasar yang ada apa kulit kelapa, serat tersebut di gunakan sebagai pengganti bulu burung Kaswari yang saat ini mendekati kepunahan akibat maraknya perburuan liar, baik sebagai asesories mahkota maupun untuk memenuhi kebutuhan pangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ke dua yaitu pelatihan pembuatan replika burung cendrawasih berbahan kulit kelapa, sebagai pengganti burung cendrawasih yang lazim di sematkan pada mahkota’, yang saat ini penggunaan burung cendrawasih telah di lindungi berdasarkan Surat Edaran Gubernur Papua No. 660.1/6501/SET. Tentang pelarangan penggunaan burung cendrawasih sebagai asesories, hiasan atau cenderamata, kebijakan ini bertujuan untuk melindungi satwa endemik Papua dari kepunahan dan menjaga nilai sakral ya. serta mendorong penggunaan versi imitasi atau replika nya.
Sebagai nara sumber adalah Sobikhan salah seorang pegiat lingkungan hidup dan pemerhati lingkungan di Provinsi Papua yang tergabung sebagai volunteer kelompok pegiat lingkungan RUMAH BAKAU.
Pelatihan tersebut di ikuti oleh 20 orang peserta terdiri dari putra putri anak adat, berasal dari berbagai distrik di kabupaten Keerom, pelaksanaan pelatihan di lakukan sehari dari pukul 8:00 pagi sampai dengan puku 15:00 sore waktu Indonesia timur, secara keseluruhan pelatihan berjalan aman dan lanca,
Dalam keterangan Ferry Amo S.Ip pada sesi wawancara di dampingi sekertaris LMA Ibu Triyani A. Fugu S.Hut menyampaikan;

” Menindak lanjuti arahan bupati kabupaten Keerom Bapak Piter Gusbager, agar anak anak genersi muda Keerom memiliki ketrampilan dan keahlian di bidang ekonomi produktif berkaitan dengan simbol simbol nilai budaya.
Kulit kelapa merupakan sumberdaya alam organik yang belum tersentuh pemanfaatan nya khususnya di Papua, pohon kelapa tumbuh subur hampir di seluruh wilayah Papua kecuali Papua Pegunungan, dengan adanya pelatihan ini maka berharap kulit kelapa yang keberadaan nya hanya sebagai sampah atau limbah, maka kulit kelapa akan meningkat nilai nya, menjadi barang yang berharga budaya lokal sebagai mahkota dan mempunyai nilai ekonimis sebagai pengganti bulu burung yang saat ini sudah hampir punah.

Ada dua tujuan terselenggaranya pelatihan ini, yang pertama adalah untuk meningkatkan kapasitas ketrampilan perempuan asli dalam bidang kemampuan dan kreasi dalam membuat dan memelihara simbol simbol budaya lokal, yang ke dua adalah untuk mengurangi perburuan binatang dan tumbuhan dari kepunahan yang saat ini sudah di lindungi oleh pemerintah sebagai bentuk pelestarian” ungkapnya (SBN)












