SAATNYA WARTAWAN PUNYA RUMAH

- Penulis

Senin, 28 April 2025 - 09:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Saatnya Wartawan Punya Rumah dan Tidak Dirumahkan

i

Saatnya Wartawan Punya Rumah dan Tidak Dirumahkan

HarianPers || Indramayu – pendapatan wartawan kini seperti tinta yang menipis di ujung pena. Sejak media cetak ditinggalkan pembaca dan berguguran satu per satu, banyak jurnalis senior yang dulu terbiasa berlari mengejar berita dengan stamina penuh kehabisan angin. Transisi ke era digital membawa gelombang perubahan besar. Bukan cuma berita yang berpindah ke layar gawai, tapi juga nasib ribuan wartawan yang menggantungkan hidup pada oplah dan iklan cetak. Senin (28/42025).

Peralihan ke media online, yang semula diharap jadi penyelamat, ternyata tidak cukup kuat mengangkat ekonomi para jurnalis. Platform digital menjanjikan kecepatan dan jangkauan, tetapi sering gagal memberi kestabilan finansial. Gaji rendah, status kerja tak pasti, hingga beban kerja yang terus meningkat jadi wajah baru profesi wartawan masa kini.

Ironisnya, baik jurnalis muda yang sedang merintis maupun senior yang telah melintasi berbagai zaman sama-sama mengalami kesulitan. Salah satu indikator paling nyata: kesulitan memiliki rumah. Jika dulu wartawan bisa mencicil rumah dengan sepertiga gaji bulanan, kini bahkan lima kali lipat gaji pun tak cukup menutupi cicilan awal. Harga rumah melonjak, dan pendapatan wartawan tak kunjung menyesuaikan. “Ukuran cukup” dalam standar hidup wartawan masa kini nyaris tak menyentuh garis wajar.

Namun, di tengah langit yang tampak kelabu, muncul satu cahaya dari sudut tak terduga. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat bergerak. Dengan ketukan pintu ke Menteri Perumahan dan Kawasan Pemukiman serta komunikasi yang efektif via percakapan WhatsApp, PWI Pusat menggolkan sebuah inisiatif konkret: program rumah subsidi bagi wartawan. Bekerja sama dengan Kemen-PKP, BPS, Tapera, BTN, hingga Kemen-Komdigi, program ini menyasar para pekerja media berpenghasilan menengah ke bawah—bagian dari skema Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Kerja sama ini bukan sekadar wacana. Dari 1.000 rumah yang direncanakan, Pak Menteri PKP Maruarar Sirait menargetkan sebanyak 100 unit untuk wartawan di Bogor, Tambun, Bekasi, Karawang, Tangerang, dan Serang sudah serah terima kunci pada 6 Mei 2025. Skema pembayarannya ringan: cicilan tetap, bunga flat 5 persen per tahun sampai lunas, uang muka mulai dari 1 persen, bebas PPN dan BPHTB. Syaratnya pun terjangkau: penghasilan maksimal Rp 13–14 juta per bulan.

PWI menegaskan bahwa program ini bukan alat intervensi. Tidak ada barter independensi dengan subsidi. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk penghormatan terhadap profesi jurnalis yang menjadi pilar keempat demokrasi. Rumah layak bukan kemewahan ia adalah hak dasar.

Sebenarnya sejak 2015, sudah lebih dari 1.100 wartawan memiliki rumah melalui program serupa. Namun sempat vakum tujuh tahun menjelang dan saat pandemi Covid-19 serta sesudahnya. Kini, momentum diperluas lagi. Survei ke lokasi telah dilakukan, dan proses pengajuan dilakukan secara transparan melalui BTN tanpa pungutan liar. PWI Pusat menyerukan kepada seluruh pengurus daerah untuk segera mendata anggotanya. Gaspol!

Baca Juga:  Bersiteru Kepemimpinan PWI, Dewan Pers Larang Tempati Gedung

Lebih dari sekadar solusi tempat tinggal, program ini menyasar ketahanan sosial jurnalis. Rumah sendiri bukan hanya soal dinding dan atap, melainkan tempat pulang, tempat tumbuh, tempat stabilitas mental dibangun—yang pada akhirnya akan berdampak pada kualitas kerja jurnalistik. Jurnalis yang tenang hidupnya akan lebih kuat menjaga independensi dan integritas profesi.

Pemerintah pun melihat inisiatif ini sebagai bagian dari strategi menurunkan angka backlog perumahan nasional yang masih menyentuh angka 12,7 juta unit. Dengan kepemilikan rumah yang masih sekitar 60 persen, jurnalis masuk dalam kelompok pekerja semi-formal yang berhak mendapatkan akses layak terhadap hunian.

Kita tahu, rumah bukan segalanya. Tapi tanpa rumah, banyak hal lain jadi rapuh. Sudah waktunya wartawan berhenti jadi tamu di negerinya sendiri. Mari manfaatkan peluang ini. Jika tak sekarang, kapan lagi?

Rumah kecil, tapi milik sendiri. Wartawan juga berhak hidup sejahtera.(Mzk).

Follow WhatsApp Channel harianpers.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DPRD Cianjur Kuliti Seleksi PPPK Paruh Waktu, Dua Kades Aktif Jadi Sorotan
Di Tengah Sengketa, Pembangunan Muncul di Lahan 56 Hektare Padaluyu
Bupati Indramayu Lucky Hakim Buka pintu Pihak Swasta Mengelola & Kembangkan Wisata 
Dana PIP Rp392 Juta Tak Sampai ke Siswa, FPP Desak Mantan Kepsek SMA 1 Sindangbarang Bertanggung Jawab
Sidang Kedua, Keberatan Kuasa Hukum SINAGA Atas Dakwaan JPU, Toni RM, S.H.,M.H Pastikan Di Tolak
2025 Tuntas, 2026 Siap Jalan: Disdikpora Cianjur Gas Pembangunan SMP
Pimpin Apel Perdana Gabungan Tahun 2026, Ini Pesan Bupati Keerom Piter Gusbager
Giat Santiaji Capaian inplementasi Visi dan Misi H. Dedy S Musashi, S.S dan Ketua IKWI, Saptarini Kismawati, S.S., M.Pd, masa bhakti 2023-2026
Berita ini 1 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 14 Januari 2026 - 15:47 WIB

DPRD Cianjur Kuliti Seleksi PPPK Paruh Waktu, Dua Kades Aktif Jadi Sorotan

Rabu, 14 Januari 2026 - 14:55 WIB

Di Tengah Sengketa, Pembangunan Muncul di Lahan 56 Hektare Padaluyu

Selasa, 13 Januari 2026 - 19:20 WIB

Bupati Indramayu Lucky Hakim Buka pintu Pihak Swasta Mengelola & Kembangkan Wisata 

Selasa, 13 Januari 2026 - 15:31 WIB

Dana PIP Rp392 Juta Tak Sampai ke Siswa, FPP Desak Mantan Kepsek SMA 1 Sindangbarang Bertanggung Jawab

Selasa, 13 Januari 2026 - 14:10 WIB

Sidang Kedua, Keberatan Kuasa Hukum SINAGA Atas Dakwaan JPU, Toni RM, S.H.,M.H Pastikan Di Tolak

Berita Terbaru