HarianPers Subang 14/11/25
Adanya pengunduran diri Seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemkab Subang dr Maxi, yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, cukup menyedot perhatian public. Di balik semua itu, ternyata berimbas terkuaknya fenomena yang sangat mengejutkan Publik Subang.
Adanya dugaan praktek pat gulipat yang mengharuskan para Kepala OPD menyetor Upeti atau setoran rutin, Puluhan hingga Ratusan Juta Rupiah sangat memberatkan para Kepala OPD di jajaran Pemkab Subang .
Adanya seteron wajib ini guna memenuhi kebutuhan berlebihan Oknum penguasa Daerah, dimana polanya mirip “Bursa Saham”.
Hal itu diungkapkan ketua LSM KOMPAK Subang ,Permana WT pada saat ketemu langsung dgn dr Maxi Sabtu (8/11/2025).
Permana membeberkan, bila pengakuan mantan Kepala Dinas Kesehatan Subang dr. Maxi yang secara blak-blakan ,, dirinya merasa dijadikan “sapi perahan”, oleh oknum penguasa Daerah itu, bukan isapan jempol belaka, seperti dilansir dari beberapa media .
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
dr.Maxi secara explisit menyebutkan, penyerahan uang Rp 100.000.000 ( seratus juta rupiah ) dilakukan dua kali pada bulan yang berbeda di tahun 2025. “Saya kasih ke Pak Heri Sopandi (saat itu menjabat Kadis PUPR) uang tunai Rp.50 juta di bulan April, dan Rp.50 juta bulan Juli, untuk disetorkan ke Bupati Subang,” ungkap Dr.Maxi.
Menurut Permana dari beberapa pengakuan dari mantan Kadinkes Subang penghimpunan setoran / Upeti dari para Kepala OPD, mekanismenya secara bergilir setiap periode tertentu, dan terorganisir harus sampai target yang di minta penguasa .
Mencapai Rp 500. 000.000 ( lima ratus juta rupiah ) untuk sedikitnya 4 sampai 5 OPD , masing-masing OPD nominalnya variatif, tergantung potensi OPD. Bila OPD-nya potensial seperti PUPR, kebagaian cukup besar.
Sepengetahuan bang ginting pada periode itu, seperti Dinas PUPR kebagian jatah Rp. 250 juta kemudian OPD lainnya, ada yang kebagian jatah Rp.100 juta, Rp.50 juta, dst, sehingga genap terhimpun Rp.500 juta.
Setiap periode tertentu, sesuai dengan kebutuhan penguasa daerah, lalu kolektor, atau Pejabat yang di tunjuk untuk keliling mendatangi dan memungut cuan Upeti itu ke sejumlah OPD yang terkena giliran, jadi polanya seperti bursa saham gitu,” ungkap Bang Ginting.
Permana ( Sekjen Kompak ) menyebutkan, seteoran rutin tersesbut, di duga, selain untuk bergaya hedon, dengan mobil pribadi mewah, harga wah, termasuk Moge yang sebelumnya keliling desa, selalu menggunakan motor vespa, kini berganti jadi moge. Bupati termuda Bupati Ngabret, ternyata oh…..ternyata, menyimpan misterius yang sangat membahayakan, di balik semua pencitraannya itu.
“Maka untuk itu LSM KOMPAK dalam waktu dekat akan menggelar aksi unjuk rasa damai ke gedung DPRD dan Pemda Subang … Insya Allah kami akan segera melaporkan agar Aparat penegak hukum segera bertindak untuk pemangilan kepada pihak – pihak yang di duga melakukan perbuatan tindak pidana korupsi gaya baru, dan LSM Kompak akan mengundang fakar hukum. Hasil kajian nanti akan kita serahkan ke KPK,” tegas nya .
Ketika di singgung tentang data dugaan Upeti tersebut, dengan tegas dia menyatakan, jika LSM Kompak sudah berbicara, jangan pernah ragukan data yang dimiliki LSM Kompak, semuanya sudah siap, yang pastinya tunggu saja KPK akan turun ke Subang. “Soal data dugaan yang LSM kompak ungkapkan, pastinya kami sudah mengantonginya. Tunggu saja KPK pasti akan turun ke Subang,” tandasnya ….( Hnd /Wnd )












