CIANJUR, 4 Februari 2026 – Tiga tahun berlalu sejak gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang dan meluluhlantakkan Kabupaten Cianjur pada 21 November 2022, namun bayang-bayang kepedihan masih nyata bagi sebagian korban. Di Kampung Panumbangan, Desa Cibulakan, keluarga Yayah Sopiah (43) menjadi simbol dari proses pemulihan yang tersendat. Mereka hingga kini masih bertahan di hunian sementara (huntara) yang terbuat dari kayu, terpal, dan tenda darurat yang tak layak huni.
“Tidak ada bantuan sama sekali dari pemerintah,” ucap Yayah dengan nada getir saat ditemui di lokasi huniannya yang memprihatinkan, Rabu (4/2/2026). Pernyataannya seperti tamparan keras terhadap janji-janji rehabilitasi dan rekonstruksi yang digaungkan pascabencana.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi huntara yang serba terbatas itu memaksa keluarga Yayah dan ketiga anaknya berjuang melawan terpaan cuaca ekstrem setiap hari. Saat terik, panas menyengat tak tertahankan. Di malam hari, dingin menusuk tulang. Hujan pun menjadi mimpi buruk tersendiri bagi mereka.
”Kalau hujan selalu banjir, semua pada basah,” keluh Yayah, menggambarkan betapa rapunya atap dan dinding tempat tinggal mereka.

Dampak lingkungan yang tidak sehat tersebut berimbas serius pada kondisi kesehatan anak-anaknya. Salah satu dari mereka bahkan dilaporkan mengalami stunting, kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang diperparah oleh sanitasi dan tempat tinggal yang buruk. “Kalau berobat sudah, tapi kalau kondisi rumahnya seperti ini mau bagaimana?” tanya Yayah, dengan kegelisahan seorang ibu yang merasa tak berdaya.
Di tengah keprihatinan tersebut, suami Yayah harus banting tulang sebagai tukang parkir untuk menopang kehidupan keluarga. Penghasilan yang pas-pasan membuat impian membangun rumah baru yang layak bagai mimpi di siang bolong, tanpa adanya intervensi atau bantuan dari negara.
Kisah pilu keluarga Yayah diduga kuat bukanlah cerita tunggal. Mereka merepresentasikan potensi masih banyaknya korban gempa Cianjur lainnya yang seakan terlupakan dalam proses pemulihan jangka panjang. Mereka terus menanti janji hunian tetap (huntap) yang tahan gempa dan nyaman, yang hingga detik ini masih menjadi angan-angan.
Harapan Yayah sederhana namun mendasar: perhatian dan tindakan nyata dari pihak berwenang. “Ya mudah-mudahan ada milik dan rezekinya,” pungkasnya, menggantungkan nasib pada uluran tangan yang semestinya sudah datang lebih cepat.
Situasi ini memantik pertanyaan kritis tentang akuntabilitas dan efektivitas program rekonstruksi pascabencana yang dicanangkan. Sudah sejauh mana tanggung jawab negara dalam memenuhi hak dasar para penyintas, terutama hak atas tempat tinggal yang layak, tiga tahun setelah tragedi memilukan itu?
Sampai berita ini diturunkan, pihak Dinas Kesehatan setempat belum dapat memberikan tanggapan atau keputusan terkait kondisi kesehatan anak korban dan upaya penanganan di lokasi huntara tersebut.
Penulis : Ramdhani
Editor : SLS












