Harisnpers.com //KEEROM – Pemerintah Kabupaten Keerom resmi memulai langkah besar dalam mentransformasi sektor pertanian daerah dengan menggandeng Society College dan jaringan pengusaha asal Belanda.
Kerja sama ini difokuskan untuk mencetak generasi muda atau petani milenial yang memiliki karakter kuat serta kemampuan menghasilkan komoditas standar ekspor.
Sebagai bentuk keseriusan pemerintah daerah, Bupati Keerom, Piter Gusbager membeberkan Pemkab Keerom telah menyiapkan anggaran yang siap dikucurkan sebagai modal langsung.
Program ini ditujukan bagi startup petani muda yang fokus pada tiga komoditas unggulan Keerom, yaitu kopi, cokelat, dan vanili.
Orang nomor satu di Kabupaten Keerom itu menekankan bahwa program ini adalah solusi atas masalah regenerasi petani di Keerom. Saat ini, jumlah petani usia tua semakin berkurang sementara ketersediaan lahan sangat melimpah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kita kehabisan petani tua. Maka kita harus siapkan generasi yang mau bekerja di lahan pertanian dengan konteks modern dan kekinian. Pertanian harus menjadi sektor yang atraktif untuk mencari uang dan menciptakan lapangan kerja baru,” ungkap Bupati Gusbager kepada Cenderawasih Pos, Minggu (19/4) malam.
Bupati dua periode itu menjelaskan pendaftaran segera dibuka bagi kelompok petani milenial. Setiap kelompok nantinya terdiri dari 5 hingga 7 orang yang akan dibimbing secara intensif hingga membentuk startup pertanian.
Inisiatif ini diproyeksikan menjadi percontohan (pilot project) bagi kanupaten lain di Tanah Papua.
Dengan adanya modal usaha,
pendampingan teknologi dari Belanda, dan jaminan pasar ekspor, Kabupaten Keerom optimis dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus mencetak generasi muda berkualitas yang mampu mengangkat potensi lokal ke kancah global.
Kemudian Fibiola Ohee, pembicara dari Society College sekaligus Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP), menjelaskan bahwa kolaborasi ini melibatkan direktur perusahaan dan pengusaha dari Belanda.
“Tujuan utamanya bukan sekadar memberikan bantuan materi, melainkan membangun karakter entrepreneur bagi anak muda Papua agar lebih bertanggung jawab dan fokus dalam mengelola usaha,” ungkapnya.
“Selama ini seringkali anggaran diberikan tetapi kurang fokus sehingga modal itu hilang. Melalui kerja sama ini, pihak Belanda akan memberikan pendampingan pengetahuan dan keterampilan agar hasil produksi meningkat dan terkontrol dengan baik,” sambungnya.
Ia menambahkan pasar untuk produk Keerom nantinya sudah tersedia, di mana para mitra dari Belanda tersebut bertindak sebagai pembeli sekaligus mentor untuk memastikan produk yang dihasilkan memenuhi standar pasar internasional.
Finiola menyebutkan potensi besar vanili dan kopi Keerom yang masih sangat alami. Namun, untuk menembus pasar ekspor, diperlukan teknik budidaya yang lebih presisi. Para ahli dari Belanda akan memberikan pelatihan mengenai teknik pembibitan, pemberian nutrisi, hingga pengaturan pencahayaan matahari agar kualitas komoditas di Keerom seragam dan bernilai jual tinggi.
”Kita ingin anak muda Keerom mencintai pertanian, berani bertani, dan menjadi pelaku usaha yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitarnya,” pungkasnya. (SBN)












