Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Artikel

Zakat dan Wakaf Digital: Ketika Ibadah Sosial Bertemu Gaya Hidup Gen Z

19
×

Zakat dan Wakaf Digital: Ketika Ibadah Sosial Bertemu Gaya Hidup Gen Z

Sebarkan artikel ini

Ditulis oleh An Nisa Putri Mashudi, Institut Agama Islam SEBI

 

Example 300x600

Coba ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu lihat ajakan berzakat atau berwakaf lewat media social? Mungkin dalam bentuk story Instagram teman, video Tiktok singkat, atau notifikasi dari aplikasi dompet digital yang tiba-tiba muncul pas mau transfer uang. Fenomena ini bukan kebetulan. Zakat dan wakaf, dua bentuk ibadah sosial yang dulunya identik dengan cara-cara yang umum atau tradisional, sekarang mulai bertransformasi mengikuti gaya hidup digital anak muda.

Generasi Z tercatat sebagai kelompk yang paling cepat merespons ajakan berbagai di ruang digital. Bedanya dengan zakat secara umum yang biasanya dibayarkan lewat masjid atau amil zakat setempat, sekarang cukup buka aplikasi, pilih nominal, lalu bayar lewat QRIS atau e-wallet dalam hitungan detik. Beberapa daerah bahkan sudah mulai memperkenalkan secara umum gerakan wakaf digital secara resmi, sebagai upaya memperluas jangkauan wakaf ke masyarakat yang lebih muda dan melek teknologi.

Kenapa Gen Z Tertarik dengan Zakat dan Wakaf Digital?

Ada beberapa alasan yang membuat cara digital ini lebih sesuai di hati anak muda:

  1. Serba cepat dan praktis

Bagi generasi yang tumbuh bersama smartphone, proses yang ribet adalah musuh utama. Kalau dulu berzakat harus datang langsung ke lembaga amil, sekarang tinggal dilakuin di mana saja lewat beberapa kali ketukan di layer. Kepraktisan inilah yang jadi daya tarik utama.

  1. Pengaruh lingkaran pertemanan dan media social

Ajakan berbagi yang muncul dari circle pertemanan atau influencer yang diikuti biasanya lebih mudah menggerakan hati dibanding iklan secara umum. Ketika berzakat atau berwakaf dibahas di lingkaran sosial, hal itu perlahan menjadi semacam kebiasaan baru yang dianggap wajar dan keren.

  1. Tetap kritis soal keabsahan syariah

Menariknya, meski menyukai kemudahan teknologi, Gen Z ternyata tidak asal pakai. Mereka tetap ingin memastikan bahwa transaksi digital yang dilakukan sah secara syariat,meskipun prosesnya tanpa tatap muka dengan amil atau nazir wakaf.

 

Tantangan yang Masih Ada

Sayangnya, tingginya aktivitas media social anakjda tidak selalu sejalan dengan Tingkat pemahaman mereka soal zakat dan wakaf. Banyak yang lebih akrab dengan tren hiburan digital dibanding memahami konsep dasar zakat, bagaiman perhitungannya, atau apa saja bentuk wakaf yang bisa dilakukan selain menyumbangkan tanah atau bangunan. Padahal, wakaf sekarang bisa dilakukan dengan nominal kecil lewat wkaaf uang, tanpa harus punya asset besar. Padahal, wakaf sekarang bisa dilakukan dengan nominal kecil lewat wakaf uang, tanpa harus punya asset besar.

Selain itu, isu kepercayaan terhadap lembaga pengelola juga masih jadi pertimbangan. Anak muda cenderung lebih mudah tergerak untuk berdonasi social biasa, tapi belum tentu semudah itu untuk menyalurkan zakat, karena ada semacam “jarak psikologis” yang lebih tinggi kektika menyangkut ibadah wajib.

 

Peran yang Bisa Diambil Mahasiswa

Di sinilah sebenarya mahasiswa, khususnya yang belajar ekonomi atau bisnis syariah, bisa mengambil peran penting:

  • Membantu menyebarkan edukasi literasi zakat dan wakaf lewat kanal yang dekat dengan Gen Z, seperti Instagram atau TikTok
  • Ikut mengenalkan bentuk-bentuk wakaf produktif yang belum banyak diketahui, misalnya wakaf uang atau wakaf saham
  • Berperan sebagai jembatan kepercayaan, dengan memberi pemahaman yang jelas soal bagaimana dana zakat dan wakaf digital benar-benar disalurkan
  • Mendorong teman sebaya untuk tidak hanya ikut tren, tapi juga memahami esensi ibadah dibaliknya

 

Zakat dan wakaf digital memberi kesempatan besar untuk menyentuh generasi muda yang sebelumnya mungkin merasa tidak terhubung dengan praktik kebaikan Islam secara tradisional. Tapi kemudahan teknologi saja tidak cukup kalau tidak dibarengi dengan literasi yang memadai. Di sinilah pentingnya peran mahasiswa dan komunitas ekonomi syariah, tidak hanya sebagai penikmat kemudahan digital, tapi juga sebagai penggerak edukasi supaya zakat dan wakaf tidak berhenti jadi tren sesaat, melainkan benar-benar menjadi kebiasaan yang berdampak.

 

Sumber:

BAZNAS Kota Manado. (2026). Mengubah zakat menjadi gaya hidup: Strategi memikat Gen Z dan milenial di era digital. https://kotamanado.baznas.go.id/artikel/show/mengubah-zakat-menjadi-gaya-hidup-strategi-memikat-gen-z-dan-milenial-di-era-digital/34663

Swara Jabbar News. (2026, 31 Agustus). Wagub Erwan canangkan wakaf digital, cocok dengan kebiasaan generasi muda. https://swarajabbarnews.com/2026/08/31/wagub-erwan-canangkan-wakaf-digital-cocok-dengan-kebiasaan-generasi-muda

Example 120x600