CIANJUR — Pendidikan di Cianjur Selatan seperti anak tiri.
Video viral memperlihatkan Kelas Jauh SDN Banyuasih, Naringgul. 40 siswa dari kelas 1 sampai 6 dipaksa berdesakan di 1 ruangan reot. 1 papan tulis dipakai giliran.
Ini bukan sekolah darurat. Ini kelas jauh resmi.
Tapi kondisi fasilitasnya memalukan.
Disdikpora Cianjur berdalih klasik: “kendala geografis”.
Kabid SD Rifki Mohammad Ramdan bilang, kelas jauh ini sengaja dibuat karena akses ke sekolah induk 5 KM. Jalan curam, harus nyebrang sungai banjir. Tempuh 1 jam.
“Ini atas permintaan warga demi keselamatan anak,” katanya, Rabu (22/7/2026).
Pertanyaannya: Demi keselamatan, lalu pantaskah anak-anak dikurung di ruangan seperti ini?
Rifki juga mengklaim sudah mengucurkan DAK 2023 untuk “sekolah induk”. Sudah ada kelas baru, lab, perpustakaan.
Untuk kelas jauh? Jawabannya diplomatis: “Kami terus upayakan pemenuhan fasilitas bertahap menyesuaikan anggaran.”
” Bertahap ” sampai kapan? Sementara hari ini 45 anak di kelas jauh terus jadi korban janji.
Data: 45 murid di kelas jauh. 42 murid di induk. Jelas yang diabaikan justru yang paling rentan.
Pendidikan bukan soal bisa sekolah atau tidak. Tapi soal layak atau tidak.
Dan di Naringgul, jawabannya masih: TIDAK LAYAK.

















