CIANJUR — Kemarau panjang tahun ini membuat Bendung Cisokan di Kecamatan Bojongpicung megap-megap. Debit air anjlok drastis dan mengancam ribuan hektare sawah di hilir.
Bendung Cisokan merupakan hulu dari Saluran Irigasi Induk Daerah Irigasi Cihea. Saluran ini menopang kebutuhan air untuk sekitar 5.000 hektare lahan sawah di Kecamatan Ciranjang, Bojongpicung, dan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Petugas Bendung Cisokan, Hendra Purnama menerangkan, kondisi saat ini sangat memprihatinkan. Debit air yang masuk ke saluran DI Cihea kini hanya 42,02 liter per detik. Bahkan sempat menyentuh titik terendah 29,52 liter per detik.
“Angkanya naik turun tiap hari. Kejadian seperti ini sudah berlangsung 3 bulan terakhir,” ujar Hendra, Rabu (30/7/2026).
Dengan debit sekecil itu, air dipastikan tidak akan sampai ke saluran tersier di bagian hilir. Air keburu terserap tanah yang sudah kering kerontang di sepanjang jalur.
Akibatnya, puluhan hektare sawah mulai mengalami kekeringan.
Untuk mengatasinya, pihak bendung terpaksa menerapkan sistem gilir. Pembagian air dilakukan dua hari sekali untuk tiap kelompok P3A Mitra Cai Golongan. Skema ini dilakukan bersama PSDAP Provinsi, Dinas Pertanian Hortikultura Cianjur, dan UPTD Pertanian Wilayah Ciranjang.
“Kami mohon masyarakat bersabar. Dengan kondisi debit air yang turun drastis seperti ini, mau tidak mau harus berbagi,” pungkas Hendra.

















