CIANJUR – Musyawarah Daerah Musda DPD Partai Golkar Cianjur jadi sorotan. Perebutan kursi Ketua bukan sekadar duel dua nama. Ini soal arah Golkar Cianjur 5 tahun ke depan.
Dua kandidat maju dengan “jurus” berbeda.
Isfhan: Kartu Pengalaman dan Jaringan
Isfhan datang dengan modal pengalaman politik panjang. Sebagai anggota DPR RI, ia punya jejaring luas sampai ke pusat. Di internal, ia dipandang sebagai representasi kesinambungan kepemimpinan Golkar Cianjur.
Kekuatan utamanya: konsolidasi, kedekatan dengan struktur, dan pengalaman organisasi.
Metty: Kartu Regenerasi dan Wajah Baru
Di sisi lain ada Metty Triyatna. Sebagai Ketua DPRD Cianjur, ia adalah salah satu figur perempuan paling berpengaruh di politik lokal saat ini.
Metty membawa narasi regenerasi. Kehadirannya mencerminkan dorongan sebagian kader agar Golkar membuka ruang lebih besar bagi kepemimpinan generasi baru, dengan gaya yang lebih adaptif pada perubahan.
Ujian Kedewasaan Golkar
Kontestasi ini pada akhirnya bukan hanya soal Isfhan vs Metty. Yang dipertaruhkan adalah arah partai.
Apakah Golkar Cianjur memilih jalur kesinambungan dengan mengandalkan pengalaman dan jaringan yang sudah ada?
Atau mempercepat regenerasi dengan memberi ruang pada kepemimpinan baru?
Dinamika ini menunjukkan demokrasi di tubuh Golkar masih hidup. Tapi kompetisi hanya bermakna jika berlangsung demokratis, transparan, dan menjunjung etika.
“Tak boleh ada ruang untuk politik transaksional, intimidasi, atau praktik yang mencederai marwah partai,”
Musda kali ini akan dikenang bukan karena sengitnya persaingan. Tapi karena menjadi momentum penentuan arah perjalanan Golkar Cianjur.
Sebab kemenangan sesungguhnya bukan saat satu kandidat mengalahkan yang lain. Kemenangan yang hakiki adalah ketika Golkar keluar dari Musda dalam keadaan lebih solid, lebih dipercaya publik, dan lebih siap menjawab tantangan politik Cianjur.
















