Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Hukum Kriminal

3 Jeritan Petani Cianjur ke Dewan: Modal ke Tengkulak, Irigasi Ambruk, Produk Tak Masuk SPPG

137
×

3 Jeritan Petani Cianjur ke Dewan: Modal ke Tengkulak, Irigasi Ambruk, Produk Tak Masuk SPPG

Sebarkan artikel ini

CIANJUR – Anggota DPRD Kabupaten Cianjur, Azis Muslim, mengungkap tiga persoalan klasik yang masih menjerat petani usai reses ke tiga kecamatan: Cipanas, Sukaresmi, dan Cikalongkulon. Mulai dari modal yang dikuasai tengkulak, irigasi dari bambu, hingga hasil panen yang tak terserap program pemerintah.

“Keluhan mereka sebenarnya sederhana. Pertama, soal permodalan,” kata Azis di Cianjur, Selasa, 2/6/2026.

Example 300x600

1. CIPANAS: TERJERAT SISTEM IJON KOPI
Di Cipanas, petani kopi mengaku tak butuh uang tunai, tapi akses ke lembaga keuangan resmi. Selama ini mereka terpaksa pinjam ke tengkulak untuk biaya pupuk, obat, dan upah pekerja.

“Ekspektasi mereka gak tinggi. Minimal difasilitasi ke perbankan. Praktiknya, mereka tersandera sistem ijon. Pas panen, kopi harus dijual murah ke tengkulak karena sudah terikat utang. Petani gak punya kemerdekaan harga,” tegas Azis.

Selain modal, petani juga butuh alat pasca panen. “Sayang kopi Cianjur potensinya luar biasa tapi dijual mentah. Kalau diolah dulu, nilai tambahnya naik. Masalahnya alatnya gak ada,” ujarnya. Petani juga mendesak pemerintah membuka akses pasar agar tak bergantung tengkulak.

2. SUKARESMI: IRIGASI MASIH PAKAI BAMBU
Masalah berbeda muncul di Desa Kubang, Sukaresmi. Petani padi di sana terancam gagal panen karena bendungan irigasi masih tradisional.

“Bendungannya miris. Masih pakai bambu. Kalau hujan besar atau banjir bandang, langsung hancur,” ungkap Azis.

Akibatnya pasokan air ke sawah tak stabil. Warga sempat swadaya bikin bronjong, tapi tak bertahan lama. “Saya dorong dinas terkait turun tangan. Irigasi ini nyawa bertani,” tegasnya.

3. CIKALONGKULON: HASIL BUMI TAK MASUK DAPUR MBG
Di Cikalongkulon, petani berharap hasil panennya bisa masuk ke Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis.

“Petani paham kebutuhan SPPG besar dan penyerapan produknya luar biasa. Tapi kalau SPPG gak pakai produk lokal, lalu apa fungsinya? Salah satu tujuan SPPG kan menggerakkan ekonomi warga sekitar,” kata Azis.

Ia berkomitmen menjembatani petani dengan SPPG yang sudah beroperasi di Cianjur. “Ini akan jadi fokus saya. Fasilitasi petani agar bisa jadi supplier langsung.”

Azis menilai temuan ini sejalan dengan fokus pemerintah pusat soal swasembada pangan. “Di tengah gejolak ekonomi, sektor pertanian ini penopangnya. Relatif aman dari guncangan asal kita serius dorong petaninya,” pungkasnya.

Example 120x600