CIANJUR — Sembilan generasi alumni GMNI Cianjur sejak 2001 berkumpul. Bukan untuk nostalgia. Tapi untuk menegaskan: perjuangan Marhaenisme tidak berhenti setelah lulus.
Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia PA GMNI Kabupaten Cianjur menggelar konferensi secara kondusif dan penuh kekeluargaan. Forum ini melahirkan kepemimpinan baru melalui mekanisme musyawarah mufakat.
Catatan Penting: PA GMNI ≠ GMNI
Perlu digarisbawahi. GMNI adalah organisasi mahasiswa aktif. Berdasarkan Pedoman Organisasi, pengurus GMNI wajib berstatus mahasiswa dan dilarang merangkap anggota partai politik.
Sementara PA GMNI adalah wadah alumni. Berdiri 25 Maret 2006. Berstatus Ormas. Terpisah secara struktural. Tugasnya: merawat nilai perjuangan di luar kampus.
Aturan ini penting untuk menjaga independensi GMNI sebagai “student movement” dan agar alumni tetap punya ruang pengabdian di masyarakat.
Susi Susilawati: Konferensi Menentukan Arah Pengabdian
Ketua PA GMNI Kabupaten Cianjur, Susi Susilawati, menyebut konferensi sebagai ruang menentukan arah organisasi ke depan.
“Dengan sembilan generasi yang hadir, kepemimpinan baru lahir dari kebersamaan dan kesepakatan bersama,” ujar Susi.
Ia menegaskan PA GMNI siap menjadi mitra kritis sekaligus strategis pemerintah daerah. Bukan dengan retorika, tapi dengan gagasan konstruktif dan solutif untuk pembangunan Kabupaten Cianjur.
Dua Isu Ditembak: UHC dan Abu Vulkanik
Di forum ini, PA GMNI tidak diam. Dua persoalan rakyat langsung disorot:
1. UHC Harus Jadi Prioritas
Susi mendorong Badan Anggaran DPRD Kabupaten Cianjur agar tidak main-main dengan hak dasar kesehatan.
“Ketika masyarakat membutuhkan pengobatan, negara harus hadir dan membantu,” tegasnya.
2. Tanggap Dampak Abu Vulkanik
Menyikapi dampak erupsi Anak Krakatau, Susi mengimbau warga menjaga kesehatan pernapasan. Ia juga mengapresiasi Pemda yang bergerak cepat membagikan masker dan minuman.
Senior Jaga Marwah Organisasi
Konferensi dihadiri tokoh lintas generasi. Di antaranya Dr. H. Asep Dudung, S.H., M.Hum dan Dr. Hj. Nani Purwani Wulandari, S.OS M.M.
Kehadiran mereka menjadi penanda: estafet nilai GMNI dijaga, dari kampus ke masyarakat.
Dengan kepengurusan baru, PA GMNI Cianjur berkomitmen mengimplementasikan nilai-nilai Marhaenisme dalam pengabdian nyata.
“Yang kami bicarakan adalah bagaimana pemikiran-pemikiran ini bisa bermanfaat langsung bagi kemajuan Kabupaten Cianjur,” pungkas susi

















