CIANJUR — Puskesmas Sukanagalih, Pacet, resmi meluncurkan program “Kampung Emas Mentari” pada Jumat, 19/6/2026. Program ini fokus menekan anemia, stunting, serta Angka Kematian Ibu dan Bayi/AKI-AKB lewat kerja bareng semua pihak.
Kepala Puskesmas Sukanagalih, Utari Doriomas, bilang masalah gizi dan kematian ibu-bayi nggak bisa diselesaikan kesehatan saja. Makanya “Kampung Emas Mentari” mengajak kecamatan, pemerintah desa, kader, LSM, tokoh agama, swasta, akademisi, sampai media.
“Kunci utamanya gotong royong,” kata Utari.
Program ini sudah jalan sejak 2024 di kampung percontohan wilayah Puskesmas Sukanagalih. Hasilnya: anemia pada ibu hamil dan remaja putri turun karena dipantau ketat + edukasi gizi. Stunting juga berkurang lewat intervensi gizi yang dikerjakan bareng lintas sektor.
AKI dan AKB di wilayah kerja ikut ditekan. Layanan kesehatan jadi lebih dekat, cepat, dan ramah. Warga mulai sadar gizi cukup, cek kehamilan rutin, dan PHBS.
Idenya datang dari dr. Ardya Lucita, dokter umum di Puskesmas Sukanagalih. Ke depan, Puskesmas bersama semua pihak akan terus kawal, replikasi, dan perluas program supaya semua warga merasakan manfaatnya.
Targetnya satu: lahirkan generasi sehat, cerdas, bebas stunting.
4 Kegiatan Utama Kampung Emas Mentari:
1. Klinik Ekspres Keliling
Klinik bergerak pakai bus yang dimodifikasi. Isinya ada area registrasi, tenda pemeriksaan medis, dan lab mini di belakang. Tujuannya menjangkau wilayah yang jauh atau sulit akses.
2. Sekolah Catin
Bimbingan nikah yang diubah jadi edukasi pra-nikah wajib untuk calon pengantin di desa sasaran. Fokusnya perbaiki anemia pada calon pengantin wanita, biar pas hamil nanti ibu dan janin sehat.
3. Peta Digital Kesehatan Kampung Emas Mentari
Sistem peta kesehatan berbasis web. Data warga divisualisasikan per lokasi dan waktu. Dibuat pakai teknologi open-source: Leaflet.js/OpenLayers, Node.js/Python Django, PostgreSQL PostGIS, dan GeoServer.
4. Kampung Siaga Bumil dan Balita Mandiri
Gerakan tingkat RW untuk jaga kesehatan ibu hamil, ibu melahirkan, dan balita secara mandiri. Libatkan bidan desa, RT/RW, tokoh masyarakat, dan tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, supaya diterima semua budaya.

















