CIANJUR – Momen rapat paripurna DPRD Cianjur diwarnai kejadian tak sedap. Di antara puluhan anggota dewan yang hadir, satu anggota tertangkap kamera diduga tertidur pulas saat rapat berlangsung.
Anggota dewan berkacamata bening itu tampak bersandar di kursi dengan tangan di atas perut. Dugaan ia tertidur mencuat saat rapat masih berjalan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Paripurna dengan agenda pembahasan Raperda dipimpin Ketua DPRD Cianjur Metty Triantika, didampingi Wakil Ketua Ganjar Ramadhan dan Lepi Ali Firmansyah. Hadir pula Bupati Cianjur dr. Mohammad Wahyu Ferdian.
Di tengah rapat, sempat terjadi kericuhan hingga mengganggu anggota dewan yang diduga tertidur tersebut.
*Kritik Aktivis: Simbol Degradasi Etika*
Kejadian ini menuai kritik tajam aktivis Cianjur, Hendra Malik. Menurutnya, anggota dewan tidur saat rapat bukan sekadar soal kelelahan. “Ini simbol degradasi etika dan hilangnya rasa hormat terhadap mandat rakyat,” tegas Hendra.
Ia menyebut rapat paripurna adalah puncak proses demokrasi. Di sanalah kebijakan yang menentukan nasib rakyat diputuskan. “Ironisnya, kamera wartawan berkali-kali menangkap pemandangan anggota dewan terbuai mimpi, sementara nasib publik dipertaruhkan,” ujarnya.
Hendra mengingatkan, gaji dan tunjangan anggota DPRD dibiayai pajak rakyat. “Dari pedagang yang bangun subuh hingga buruh lembur. Ketika mereka tidur di tengah rapat, mereka mencuri waktu dan uang rakyat. Itu tidur paling mahal yang dibayar publik,” katanya.
*Kursi Dewan Representasi Ribuan Suara*
Hendra menegaskan setiap kursi di ruang sidang mewakili ribuan suara. “Saat anggota dewan memejamkan mata, dia menutup mata terhadap aspirasi konstituen. Bagaimana bisa mengklaim memperjuangkan rakyat jika mendengarkan laporan saja tidak sanggup?”
Alasan kelelahan karena jadwal padat, kata Hendra, sudah basi. “Jika tidak sanggup menjalankan tugas fisik dan mental, seharusnya tidak mencalonkan diri sejak awal,” tegasnya.
Ia mendesak Badan Kehormatan (BK) memberi sanksi tegas. “Membiarkan ini tanpa sanksi hanya memperkuat stigma gedung DPRD tempat bersantai usai kampanye. Rakyat mengirim kalian jadi penyambung lidah, bukan tukang tidur yang dibayar mahal,” imbuhnya.
Hendra meminta publik berhenti menganggap foto anggota dewan tidur sebagai lelucon. “Itu bukan komedi, itu tragedi demokrasi. Kita butuh wakil yang terjaga untuk menjaga kepentingan kita, bukan yang baru bangun saat reses atau jelang pemilu,” pungkasnya.
“Jika untuk tetap terjaga saja gagal, bagaimana kita percaya mereka menjaga amanah yang lebih berat?”
Penulis : Tomi
Editor : SLS












